Di dalam pertemuan itu, Ketua BPK Moermahadi Soerja Djanegara mengatakan kepada Jokowi bahwa kesalahan impor pangan ini berasal dari ketidaksesuaian data antar instansi lembaga pemerintah. Makanya, BPK merekomendasikan bahwa komoditas yang diimpor harus sesuai dengan kebutuhan dalam negeri.
"Presiden bilang bahwa rekomendasi kami akan ditindaklanjuti. Memang, data itu harus dirapikan, kami usulkan bahwa surat impor perdagangan bisa keluar kalau data Kementerian Perdagangan atau Kementerian Kelautan dan Perikanan harus masuk dulu," ujar Moermahadi di Kompleks Istana Kepresidenan, Kamis (5/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebetulnya, lanjut Moermahadi, pemerintah sudah punya sistem perizinan ekspor impor melalui Inatrade. Menurut dia, Kementerian perdagangan seharusnya bisa mengawasi realisasi impor yang sesuai dengan kebutuhan dalam negeri.
Selain masalah impor pangan, Moermahadi juga menyampaikan temuan BPK seperti tidak efektifnya Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) dalam mengelola obat dalam rangka penyelenggaraan Jaminan Kesehatan Nasional, terutama terkait perencanaan kebutuhan, pengadaan, serta pengawasan produksi dan distribusi obat.
"Pertemuan dengan Presiden sangat menyenangkan, dan kami sampaikan memang perlu ada perubahan sistem untuk menyelesaikan masalah-masalah tersebut," pungkas dia.