"Volume tumpahan belum dihitung secara detail tapi indikasinya sekitar 40 ribu barel, kurang lebih, tetapi detailnya nanti tunggu investigasi," ujar Direktur Pengolahan Pertamina Toharso di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Selasa (10/4).
Toharso mengaku belum menghitung total kerugian secara nominal. Namun, berdasarkan berhitungan cnnindonesia.com, dengan asumsi harga minyak mentah Indonesia (ICP) pada Maret 2018 mencapai US$61,87 per barel maka potensi kerugian Pertamina dari tumpahnya minyak tersebut setidaknya mencapai US$2,47 juta atau sekitar Rp34 miliar (kurs Rp13.700 per dolar AS),
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kilang Balikpapan sendiri saat ini telah beroperasi normal pasca mengalami gangguan selama dua hari akibat dihentikannya aliran minyak mentah dari pipa yang putus. Sebagai solusi sementara, perseroan kini mengandalkan pipa cadangan dan kapal tanker pengangkut minyak untuk mengakut minyak ke kilang.
"Kami sudah bekerja sama dengan kelurahan, RT untuk membersihkan kotoran, sampah-sampah sebagai dampak (tumpahan minyak) ini dengan mempekerjakan warga sekitar. Kami beri biaya perbantuan, kami kasih uang kepada warga yang membersihkan dan dikoordinir oleh Lurah dan (Ketua) RT setempat,"ujarnya.
Secara terpisah, Anggota Fraksi Gerindra Kardaya Warnika menilai kejadian tumpahan minyak di Balikpapan dalam industri migas sebagai kejadian luar biasa. Pasalnya, selain berdampak pada lingkungan, kejadian naas itu juga memakan lima orang korban jiwa.
Sesuai Pasal 41 Undang-undang Minyak dan Gas, selain melibatkan Pertamina, penanggung jawab pengawasan atas kejadian tersebut melibatkan departemen teknis terkait dalam hal ini Kementerian ESDM dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. (agi)