Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI Doddy Zulverdi menjelaskan defisit transaksi berjalan pada kuartal I 2018 diprediksi sebesar dua persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Sementara itu, untuk prediksi kuartal II 2018 diperkirakan lebih dari dua persen terhadap PDB.
"Melebar di kuartal II 2018 tapi sejauh ini perkiraan sementara tampaknya tetap di bawah batas aman yaitu 2,5 persen-3 persen," kata Doddy, Rabu (18/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, kenaikan defisit transaksi berjalan pada kuartal II memang umumnya terjadi setiap tahun, karena ada pembayaran dividen oleh perusahaan kepada pemegang saham dan pembayaran utang.
"Musiman seperti itu, kalau tidak kuartal II ya kuartal IV," ungkap Doddy.
"Seharusnya ini (kenaikan peringkat oleh Moodys) positif untuk rupiah, tapi rupiah belum menguat cepat karena ada faktor musiman juga dari defisit transaksi berjalan," papar Doddy.
Pada penutupan perdagangan hari ini, nilai tukar rupiah tercatat melemah 10 poin atau 0,07 persen. Namun, rupiah masih berakhir di level Rp13.766 per dolar Amerika Serikat (AS).
Dengan posisi saat ini, Doddy menilai rupiah cukup kuat, dan masih bertahan di level sekitar Rp13.700 per dolar AS.
"Nilai tukar bisa stabil di level sekarang menunjukan faktor kepercayaan pasar ada," terang Doddy.
(lav/bir)