Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo menjelaskan bahwa pihaknya sudah melakukan intervensi di pasar valuta asing (valas) maupun Surat Berharga Negara (SBN) dalam jumlah besar guna menstabilkan nilai tukar rupiah kemarin. Alhasil, menurut Agus, pelemahan (depresiasi) rupiah lebih rendah dari mata uang sejumlah negara emerging market lainnya.
"Dengan upaya tersebut (intervensi), rupiah pada hari Jumat sempat terdepresiasi sebesar -0,70 persen, pada hari Senin ini hanya melemah 0,12 persen, lebih rendah daripada depresiasi yg terjadi pada mata uang negara-negara emerging market dan Asia lainnya," ujar Agus di Washington DC, melalui keterangan resmi, Selasa (24/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Gambaran serupa, diklaim Agus, juga tampak pada periode yang lebih panjang. Sejak awal tahun ini, rupiah melemah 2,35 persen. Pelemahan tersebut lebih rendah dibanding rupe India sebesar 3,92 persen, peso Filipina 4,46 persen, dan real Brazil 3,06 persen.
Kondisi tersebut pun berlanjut hingga kemarin, Senin (23/4), yang dipicu oleh meningkatnya imbal hasil (yield) surat utang AS (AS treasury bill) dan kembali munculnya ekspektasi kenaikan suku bunga Fed Fund Rate (FFR) lebih dari tiga kali tahun ini.
"Kenaikan yield dan suku bunga di AS itu sendiri dipicu oleh meningkatnya optimisme investor terhadap prospek ekonomi AS, seiring berbagai data ekonomi AS yg terus membaik dan tensi perang dagang antara AS dan China yang berlangsung selama 2018 ini," jelas Agus.
Agus menegaskan bahwa pihaknya akan terus mewaspadai risiko berlanjutnya tren pelemahan nilai tukar rupiah. Selain dipicu dampak global, seperti kenaikan suku bunga AS, perang dagang AS-China, kenaikan harga minyak, dan eskalasi tensi geopolitik, pelemahan rupiah juga dapat bersumber dari kenaikan permintaan valas oleh korporasi domestik. Kenaikan permintaan valas biasanya cenderung meningkat di kuartal tiga, seiring kebutuhan pembayaran impor, utang luar negeri, dan pembayaran dividen.
"Untuk itu, Bank Indonesia akan tetap berada di pasar untuk menjaga stabilitas rupiah sesuai fundamentalnya," ungkap dia. (agi)