Dilansir dari Reuters, harga minyak mentah Brent berjangka pada Jumat (27/4) lalu ditutup di level US$74,64 per barel atau naik sekitar 0,5 persen secara mingguan. Bulan ini, harga Brent sempat menyentuh level US$75 per barel, atau tertinggi sejak akhir 2014.
Sementara itu, harga minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) berjangka turun tipis sekitar 0,5 persen secara mingguan menjadi US$68,10.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebagai catatan, AS bersama enam negara adi kuasa dunia lainnya membuat kesepakatan dengan Iran terkait program nuklir yang dikembangkan. Pengenaan sanksi baru kemungkinan akan menurunkan ekspor minyak Iran dan mengganggu pasokan minyak global.
Dalam perhitungan bulanan sampai 27 April, Brent telah menguat sekitar enam persen sedangkan WTI bergerak naik hampir lima persen. Penguatan harga minyak terjadi meskipun kurs dolar AS menguat melawan sekeranjang mata uang lain ke level tertingginya sejak 11 Januari 2018 lalu.
Sebagai catatan, penguatan dolar membuat komoditas yang diperdagangkan dengan dolar AS menjadi relatif lebih mahal di mata pemegang mata uang lain.
Perhatian terhadap pengetatan pasar juga dipicu oleh merosotnya kondisi politik dan perekonomian di Venezuela yang membuat penurunan produksi minyak mentah 40 persen sepanjang dua tahun terakhir.
Lihat juga:Harga Minyak Menguat Meski Dolar AS Perkasa |
Peningkatan produksi minyak AS, yang naik ke level 10,59 juta barel per hari pekan lalu, telah membantu ekspor minyak AS memecahkan rekor.
Baker Hughes mencatat pengebor minyak AS menambah lima rig pekan lalu, membuat jumlah rig minyak yang beroperasi di Negeri Paman Sam naik menjadi 825 rig, tertinggi sejak Maret 2015. Sepanjang bulan ini, jumlah rig AS telah meningkat 28 rig.
Margin penyulingan yang lemah menyakiti dua perusahaan energi terintegrasi terbesar di dunia untuk dua kuartal berturut-turut, Chevron Corp dan Exxon Mobil Corp. Kendati demikian, keuntungan produksi Chevron pada kuartal I 2018 masih mampu melampaui Exxon. (lav)