Hal itu disampaikan Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir saat berpidato pada peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) di Kampus Iwa Koesoemasoemantri Universitas Padjadjaran (Unpad), Bandung, Jawa Barat, Rabu (2/5).
"Kami menggagas beberapa kebijakan untuk menjawab kebutuhan di era ini. Salah satu kebijakan yang akan segera diimplementasikan adalah Program Pendidikan Jarak Jauh (PJJ)," kata Nasir.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan demikian, pendidikan tinggi ke depan akan menawarkan banyak pilihan model pembelajaran, mulai dari face to face, online learning, hingga blended learning.
Nasir pun berharap pengembangan PJJ mampu meningkatkan akses masyarakat dalam menempuh jenjang pendidikan tinggi berkualitas secara signifikan.
Berdasarkan data Kemenristekdikti, saat ini angka partisipasi kasar (APK) pendidikan tinggi alias partisipasi kasar dalam mengenyam pendidikan tinggi baru 31,5 persen. Kenyataannya, jika pembelajaran hanya diterapkan secara konvensional, peningkatan APK hanya berkisar di 0,5 persen per tahun.
Dengan terobosan PJJ ini, Nasir berharap APK pendidikan tinggi mampu meningkat mencapai 40 persen di tahun 2022-2023. Asalkan, PJJ dapat diakses oleh lebih banyak orang dan secara efektif diterapkan.
Nasir pun mengingatkan keharusan perguruan tinggi untuk melakukan riset dan inovasi dalam situasi sosial yang penuh disrupsi di era sekarang ini, terutama dengan dorongan Revolusi Industri 4.0.
Menurut Nasir, revolusi itu telah mengubah ciri dan cara lama dalam banyak aspek kehidupan, di antaranya dalam bidang pekerjaan dan atau profesi yang akan dimasuki oleh para lulusan dari perguruan tinggi.
"Jika tidak, maka proses pendidikan tinggi kita tidak dapat menyentuh kenyataan sosial yang sebenarnya," ujarnya. (lav)