Penurunan laba bersih perseroan membuat setoran BUMN tersebut pun ikut anjlok dari Rp12,1 triliun menjadi Rp8,65 triliun.
Pertamina tak merinci penyebab turunnya laba perseroan. Namun, pendapatan BUMN tersebut justru naik 18 persen di tahun lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Plt Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati menyebut bahwa profil keuangan perseroan di tahun lalu dipengaruhi oleh tren kenaikan harga minyak mentah dan pelemahan kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Kendati pendapatan perseroan meningkat, Pertamina beberapa kali mengaku menelan kerugian atas penjualan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Solar dan Premium.
Direktur Pemasaran PT Pertamina (Persero) Muchammad Iskandar belum lama ini mengungkapkan sebelum subsidi Solar ditambah di awal tahun ini, selisih harga Solar yang dijual dan keekonomiannya mencapai Rp1.800 per liter. Sedangkan selisih harga jual dan harga keekonomian Premium mencapai Rp900 per liter.
Khusus untuk Premium saja, Iskandar memperkirakan perusahaan menanggung kerugian lebih dari Rp11 triliun.
Selain Solar dan Premiun, Pertamina juga mengaku menjual rugi produk Pertalite yang sebenarnya bukan produk subsidi maupun BBM penugasan. (agi)