Posisi cadev merosot sekitar 0,87 persen, ini merupakan penurunan cadev dalam tiga bulan berturut-turut sejak Februari lalu.
"Penurunan cadangan devisa pada April 2018 terutama dipengaruhi oleh penggunaan devisa untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah dan stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian pasar keuangan global yang masih tinggi," ujar Kepala Departemen Komunikasi BI Agusman dalam keterangan tertulis, Selasa (8/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Selain itu, posisi ini berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor," imbuhnya.
Ke depan, Agusman bilang, BI akan terus menjaga kecukupan cadangan devisa guna mendukung stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.
Setelah itu, BI terus menyatakan bahwa bank sentral nasional terus ada di pasar untuk menjaga stabilitas rupiah. Meski, posisi rupiah terus melemah hingga saat ini menyentuh kisaran Rp14.000 per dolar AS.
Kepala Ekonom Samuel Sekuritas Lana Soelistianingsih menilai pemerintah dapat membantu Bank Indonesia untuk memperoleh pasokan dolar Amerika Serikat (AS) dan memperkuat cadangan devisa yang dibutuhkan BI untuk menstabilkan nilai tukar rupiah. Salah satunya, dengan menerbitkan obligasi global (global bond).
"Pemerintah seharusnya membantu (BI) dengan mempercepat penerbitan global bond. Ini salah satu cara yang dapat dilakukan pemerintah untuk menambah stok dolar AS," terang dia.
Saat ini, menurut lana, kebutuhan pasokan dolar AS di dalam negeri memang tengah tinggi seiring adanya kebutuhan pembayaran dividen dan utang luar negeri. Namun, dia memperkirakan, kondisi tekanan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS hanya akan berlangsung hingga akhir bulan ini atau bulan depan.
"Itu dari sisi permintaan domestik, tapi tekanan rupiah kan juga sangat bergantung pada faktor global," jelas dia. (agi/lav)