Dilansir dari Reuters, harga minyak mentah berjangka Brent pada pekan yang berakhir Jumat (11/5) lalu menguat 2,8 persen secara mingguan. Sementara, harga minyak mentah berjangka AS menguat 1,2 persen secara mingguan.
"Hal-hal sama yang menggodok kenaikan harga minyak adalah Iran, Venezuela, dan minimnya kesigapan Arab Saudi untuk membawa lebih banyak minyak ke pasar," ujar Partner Again Capital John Kilduff di New York.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya, pada Kamis (10/5) lalu, Brent sempat menyentuh level US$78 per barel, tertinggi sejak November 2014. Di hari yang sama, harga WTI juga mencapai US$71,89 per barel, rekor tertinggi sejak 3.5 tahun terakhir.
Namun, Perdana Menteri Inggris Theresa May pada Jumat lalu menegaskan dukungannya terhadap perjanjian nuklir Iran. Dia juga sepakat dengan Trump bahwa harus ada pembicaraan mengenai pengenaan sanksi AS yang nantinya akan mempengaruhi perusahaan yang beroperasi di Iran.
"Meski pasokan minyak dijaga di level konstan, pasar masih akan menghadapi minimnya kapasitas cadangan," ujar Jefferies dalam catatannya.
Di sisi lain, pasokan global minyak mentah kemungkinan bakal meningkat. Pasalnya, produsen minyak mentah AS menambah 10 rig pekan lalu menjadi 844 rig. Berdasarkan data Baker Hughes, jumlah tersebut terbanyak sejak Maret 2015.
Produksi minyak mentah AS pada dua pekan lalu mencetak rekor baru sebesar 10,7 juta barel per hari atau melonjak 27 persen sejak pertengahan 2016. Produksi minyak Negeri Paman Sam secara perlahan bakal sejajar dengan produksen minyak terbesar di dunia Rusia yang mencapai 11 juta bph. (lav/lav)