Dilansir dari Reuters, Selasa (15/5), harga minyak mentah berjangka Brent menguat US$1,11 menjadi US$78,23 per barel.
Sementara itu, harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate cuma terkerek US$0,26 menjadi US$70,96 per barel.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Para analis memperkirakan pertumbuhan produksi minyak AS masih akan berlangsung dan berkontribusi terhadap selisih harga minyak AS dan Brent.
Kendati demikian, OPEC dan sekutunya masih memangkas produksi lebih besar dari jumlah yang disepakati dalam perjanjian pemangkasan produksi.
Sementara itu, produksi dari negara produsen terbesar ketiga OPEC Iran masih dilanda ketidakpastian, menyusul rencana pembaruan sanksi dari AS.
"Jika minyak mentah dari Iran benar-benar berkurang, hal itu akan berdampak lebih besar terhadap harga Brent dibandingkan WTI," ujar Zimmerman.
"Jerman bakal melindungi perusahaan-perusahaannya dari sanksi AS, Iran mengatakan perusahaan raksasa minyak Total belum memutuskan untuk keluar dari ladang minyak (di Iran) dan sepertinya China bersiap untuk mengisi kekosongan yang diciptakan oleh AS," ujar Ahli Strategi Pasar AxiTrader Greg McKenna.
Analis Societe Generale Michael Wittner memperkirakan sanksi AS bakal menghilangkan minyak mentah Iran sekitar 400 ribu hingga 500 ribu bph dari pasar global.
Berdasarkan keterangan dari pelaku pasar yang mengutip data Genscape, persediaan di hub penyimpanan Cushing, Oklahoma yang merupakan titik pengiriman minyak mentah AS, merosot sekitar 410 ribu barel selama periode 8 Mei hingga 11 Mei.
Lihat juga:Gejolak Ekonomi Akibat Aksi Teror Bom Minim |