Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia Maret 2018 surplus US$120 juta. Ini mengubah tren neraca perdagangan yang sudah defisit dalam tiga bulan terakhir dengan akumulasi US$1,1 miliar. Tercatat, pertumbuhan ekspor Maret ada di angka 10,24 persen sementara impor hanya tumbuh 2,34 persen.
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudistira Adhinegara menilai perbaikan ekonomi negara tujuan ekspor mendorong tren kenaikan harga komoditas dari sisi ekspor.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di sisi lain, porsi ekspor komoditas mentah masih cukup besar dari total ekspor Indonesia, sehingga rentan terhadap hambatan dagang di negara tujuan ekspor.
Hal lain yang jadi penyebab penurunan surplus, menurut dia adalah defisit neraca minyak dan gas (Migas) selama kuartal I 2018 terus membengkak, ada kenaikan US$100 juta dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Januari-Maret 2018, defisit neraca migas mencapai US$2,7 miliar. Kebutuhan BBM semakin besar, sementara lifting minyak terus menurun. Alhasil, ketergantungan impor di tengah kenaikan harga minyak mentah dunia menjadikan kualitas neraca dagang tidak sehat. (lav)