Bersama dengan rupiah, beberapa mata uang negara lain di kawasan Asia juga terpantau melemah. Mulai dari renminbi China minus 0,21 persen, yen Jepang minus 0,24 persen, dan rupe India minus 0,53 persen.
Lalu, won Korea Selatan minus 0,55 persen, ringgit Malaysia minus 0,18 persen, peso Filipina minus 0,12 persen, dolar Singapura minus 0,1 persen, dan baht Thailand 0,11 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak hanya rupiah dan mata uang di kawasan Asia, beberapa mata uang negara maju yang sempat menguat dari dolar AS justru melemah pada penutupan hari ini.
Seperti, dolar Australia melemah 0,16 persen, dolar Kanada minus 0,07 persen, euro Eropa minus 0,04 persen, pound sterling Inggris minus 0,15 persen, dan rubel Rusia minus 0,03 persen.
Direktur BCA Rudy Santoso menilai pelemahan tersebut masih cukup stabil meski rupiah kembali menyentuh level Rp14 ribu per dolar AS. Kondisi tersebut, menurut dia, belum membuat transaksi jual beli meningkat drastis yang selanjutnya kembali menekan rupiah.
"Rupiah memang masih melemah, tapi sebenarnya tidak terlalu besar. Angkanya besar, tapi sebenarnya persentasenya masih kecil. Jadi tidak membuat transaksinya jadi terlalu tinggi," katanya. (agi)