Berdasarkan data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah berada di posisi Rp14.094 per dolar AS atau melemah 0,52 persen dari angka Rp14.020 per dolar AS. Dengan demikian, maka depresiasi rupiah hingga hari ini sudah mencapai 4,07 persen dari posisi awal tahun Rp13.542 per dolar AS.
"Saya berharap BI akan melakukan RDG bulanan dan me-review suku bunga, rasanya besok mereka akan RDG," ujar Darmin di Kompleks Istana Kepresidenan, Rabu (16/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, untuk menahan rupiah melemah lebih jauh, maka suku bunga acuan diharapkan bisa naik demi menahan arus modal keluar dari Indonesia. Apalagi, bank sentral AS The Fed sudah memberi sinyal untuk menaikkan suku bunga acuan Fed Rate lebih dari tiga kali di tahun ini.
Namun, Darmin memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak akan terpengaruh banyak jika nanti BI menaikkan bunga acuannya. BI dinilai tak akan menaikkan suku bunganya terus-terusan demi menjaga pacu pertumbuhan ekonomi.
"Kalau suku bunga naik, tidak berarti itu akan naik terus-terusan. Satu hingga dua bulan ke depan kan bisa lain lagi ceritanya," ujar dia.
Sementara itu, Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Aviliani mengatakan bahwa BI perlu menaikkan suku bunganya langsung 50 basis poin demi menahan arus modal keluar. Langkah ini dibutuhkan karena ia menilai BI sudah terlambat dalam mengantisipasi dampak dari kenaikan Fed Rate yang berdampak pada pelemahan rupiah.
Hanya saja, kebijakan ini juga menimbulkan situasi yang tak enak lantaran kredit tidak bisa bertumbuh dengan baik, sehingga tentu ada pengaruhnya ke pertumbuhan ekonomi. Apalagi, target pertumbuhan ekonomi juga terbilang tinggi, yakni 5,4 persen.
Kendati demikian, nilai tukar rupiah yang lebih stabil bisa memberikan kepastian bagi dunia usaha untuk berinvestasi.
"Kalau nilai tukar lebih baik dan stabil, maka dunia usaha cenderung tidak takut dengan investasi dan kenaikan harga bisa dihindari," jelas dia. (agi)