Sejalan dengan rupiah, beberapa mata uang negara di kawasan Asia berhasil menguat. Mulai dari won Korea Selatan menguat 0,39 persen, dolar Singapura 0,1 persen, baht Thailand 0,08 persen, dan peso Filipina 0,03 persen.
Di sisi lain, dolar Hong Kong melemah 0,01 persen, ringgit Malaysia minus 0,04 persen, yen Jepang minus 0,1 persen, dan renmimbi China minus 0,15 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
pernyataan bank sentral AS, The Federal Reserve pekan lalu, yang tak agresif (dovish) terhadap kenaikan tingkat suku bunga acuan membuat laju penguatan dolar AS tertahan dan menjadi celah bagi rupiah untuk menguat.
Sentimen positif dari dalam negeri masih berlanjut dari dampak kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) dan sejumlah kebijakan yang akan diambil oleh Gubernur baru BI, Perry Warjiyo, misalnya relaksasi rasio pinjaman (Loan to Value/LTV) untuk kepemilikan rumah.
Adapula sentimen dari peringkat surat utang Indonesia dari lembaga pemeringkat (rating), Standard and Poor's (S&P) yang tetap mempertahankan peringkat di posisi BBB-/A-3 dengan outlook stabil. "Hal ini berimbas positif pada tren kenaikan rupiah," katanya.
Kendati begitu, potensi sentimen negatif yang membayangi pergerakan rupiah pada pekan ini. Mulai dari rilis data pertumbuhan ekonomi hingga data pengangguran di Negeri Paman Sam. Sedangkan dari dalam negeri, rencana pemerintah untuk merevisi target pertumbuhan ekonomi tahun ini, bisa menjadi sentimen negatif.
Untuk itu, Reza memperkirakan rupiah akan bergerak di rentang Rp13.820-13.910 per dolar AS pada hari ini dan di kisaran Rp13.867-13.900 per dolar AS pada pekan ini. (lav)