Perry Warjiyo, Gubernur BI mengatakan keputusan untuk menaikkan bunga acuan pada bulan ini sejatinya didasari pada pertimbangan akan kondisi ekonomi terkini dan sesuai pada kerangka kerja BI.
"Apakah wajah saya dan para Deputi Gubernur Senior ini menunjukkan kepanikan? Kan kami mengambil kebijakan sesuai kerangka yang baku dan telah dibangun sejak lama," ujarnya di Kompleks BI, Jumat (29/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari sisi kondisi ekonomi terkini, sambung dia, memang terlihat bahwa pergerakannya sangat cepat dan memberi tekanan besar terhadap stabilitas nilai tukar rupiah.
Untuk itu, sebagai repsons dan mitigasi atas perkembangan ekonomi terkini, BI mengambil langkah yang lebih pre-emtive, front loading, dan ahead the curve.
Lihat juga:Dua Bulan Lagi, Cicil Rumah Bisa Tanpa DP |
Dengan kembali mengerek bunga acuan, maka sepanjang tahun ini, BI telah menaikkan bunga acuan hingga 100 basis poin. Sedangkan sampai akhir tahun ini, Perry belum ingin memberi kepastian apakah akan terjadi kenaikan bunga acuan BI lagi atau tidak.
Sebab, kenaikan bunga acuan BI ini cukup sejalan dengan langkah bank sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve, yang telah mengerek bunga hingga dua kali sampai Juni lalu, hingga 50 bps. Namun, The Fed telah memberi sinyal bahwa akan kembali menaikkan bunga lagi sampai akhir tahun.
Terkait hal ini, Perry bilang ke depan BI tetap akan menggunakan kerangka kerja yang berlaku, yaitu mencermati perubahan kondisi ekonomi global dan domestik. Meski, arah kebijakan (stance) BI tak lagi di posisi normal.
"Dari sisi kebijakan moneter, kami beralih dari netral ke cenderung ketat. Bahkan sedikit di atas dari cenderung ketat itu (hawkish). Karena ini tujuannya untuk memperkuat," pungkasnya. (bir)