Kendati hanya melemah tipis, namun pergerakan rupiah hari ini sempat menyentuh Rp14.455 per dolar AS. Sedangkan pada pembukaan pagi tadi, rupiah berada di posisi Rp14.365 per dolar AS.
Sementara kurs referensi Bank Indonesia (BI) atau Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menunjukkan rupiah di posisi Rp14.418 per dolar AS.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:IHSG Makin Terjungkal ke Level 5.633 |
Sedangkan won Korea Selatan berhasil menguat 0,11 persen, rupee India 0,2 persen, dolar Singapura 0,21 persen, dan renmimbi China 0,29 persen.
Ibrahim, Analis sekaligus Direktur Utama PT Garuda Berjangka mengatakan pergerakan rupiah memang cukup fluktuatif pada hari ini karena pengaruh tekanan eksternal yang masih datang dari perang dagang AS dengan sejumlah mitra dagang utamanya, seperti China, Uni Eropa, Kanada, dan Meksiko.
Sedangkan dari dalam negeri, tidak ada sentimen berarti yang mempengaruhi pergerakan rupiah usai BI mengerek bunga acuan menjadi 5,25 persen pada akhir pekan lalu. Apalagi, bank sentral nasional memang tidak mengeluarkan pernyataan apapun yang berhasil menggerakkan rupiah.
"BI sudah melakukan usaha besar akhir pekan lalu, sehingga saat ini sudah tidak ada yang bisa dilakukan. Bahkan, komentar-komentar pun tidak ada dan memang tidak perlu," ucapnya kepada CNNIndonesia.com, Selasa (3/7).
Ibrahim memperkirakan minim sentimen dari domestik masih akan bertahan hingga akhir pekan ini. Sebab, tidak ada rilis data perekonomian yang akan dikeluarkan dalam waktu dekat.
"Sampai akhir pekan ini, diperkirakan rupiah berada di kisaran Rp14.400-14.500 per dolar AS," katanya.
Kendati begitu, untuk jangka panjang Ibrahim memperkirakan rupiah bisa menguat asal pemerintah benar-benar mau bergerak cepat untuk membenahi neraca perdagangan. Misalnya, dengan mengenakan tarif bea masuk untuk menekan impor dan insentif bea keluar bagi ekspor.
(agt)