Direktur Utama Garuda Indonesia Pahala Nugraha Mansury mengatakan dana tersebut rencananya digunakan untuk menata ulang (reprofilling) utang perusahaan. Saat ini, menurut dia sebagian besar utang perusahaan berjangka waktu pendek, berkisar antara satu sampai dua tahun. Namun, beberapa surat utang (obligasi) yang diterbitkan perusahaan baru akan jatuh tempo 23 tahun mendatang.
"Kami ingin memastikan profil masa jatuh tempo dari kewajiban yang kami miliki bisa diperpanjang, misalnya dari satu sampai dua tahun menjadi lima tahun," kata Pahala, Jumat (6/7).
Pahala yakin penerbitan KIK EBA Garuda akan mendapatkan respon positif dari pasar. Pasalnya, selain menawarkan bunga menarik, instrumen tersebut beragunkan pendapatan tiket rute penerbangan Jeddah dan Madinah sebagai agunan yang digunakan dalam penerbitan KIK EBA tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Indonesia sebagai negara muslim menjadikan rute Jeddah dan Madinah cukup baik dan diharapkan ada ketertarikan masyarakat untuk melakukan pembelian KIK EBA ini," kata Pahala.
Lihat juga:SMF Rilis EBA SP BTN Rp2 Triliun |
Angka tersebut meningkat dibandingkan dengan kuartal I 2017 yang hanya US$2,82 miliar.
Sementara itu, Garuda Indonesia tiga bulan pertama tahun ini masih merugi sebesar US$64,3 juta. Jumlah itu turun dari posisi sebelumnya sebesar US$101,2 juta.
Meski masih membukukan kerugian, tetapi Pahala optimis bisa untung secara tahunan pada penghujung 2018. Garuda Indonesia menargetkan dapat meraup untung US$8,7 juta pada Desember 2018, sedangkan Garuda Indonesia Grup melalui Sky Beyond 3.5 menargetkan keuntungan US$170 juta.
"Kalau dilihat kuartal ketiga kami bisa untung, kami berusaha jaga kelancaran operasional karena kalau tak lancar tak akan peroleh pendapatan," pungkas Pahala.