Harga tersebut turun US$8,6 jika dibandingkan dengan rata-rata harga April yang masih mencapai US$662,2 per metrik ton. Direktur Eksekutif GAPKI Mukti Sardjono mengatakan tekanan disebabkan oleh pelemahan permintaan ekspor.
Berdasarkan data GAPKI, sepanjang Mei 2018 volume ekspor minyak sawit (termasuk biodiesel dan oleochemical) Indonesia menurun tiga persen dibandingkan bulan sebelumnya menjadi 2,33 juta ton.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pelemahan juga dipicu oleh stok di pasar global yang melimpah," kata Direktur Eksekutif GAPKI Mukti Sardjono dalam pernyataan yang dikeluarkan di Jakarta, Rabu (11/7).
Kenaikan produksi tersebut membuat stok minyak sawit dalam negeri meningkat dari 3,98 juta ton menjadi 4,76 juta ton.
Mukti meminta pemerintah mulai memberikan perhatian khusus kepada industri minyak sawit agar pelemahan harga tersebut tidak semakin menjadi.
Salah satu yang dia harapkan dari pemerintah, penerapan kewajiban penggunaan biodiesel yang lebih banyak, termasuk kepada non PSO.
"Jika konsumsi di dalam negeri tinggi maka stok akan terjaga dan harga di pasar global tidak anjlok karena stok yang melimpah," katanya.
Selain itu, Mukti juga berharap agar pemerintah segera memperluas pasar ekspor minyak sawit ke Afrika.