BI Optimis Rupiah Bakal Kembali Menguat

Galih Gumelar, CNN Indonesia | Kamis, 12/07/2018 08:16 WIB
BI Optimis Rupiah Bakal Kembali Menguat Gubernur BI Perry Warjiyo optimis rupiah akan kembali menguat. (Foto: CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bank Indonesia (BI) optimis nilai tukar rupiah akan kembali menguat dalam waktu dekat lantaran kondisi fundamental ekonomi di dalam negeri yang cukup baik.

Gubernur BI Perry Warjiyo menyebut fundamental ekonomi dalam negeri semakin membaik. Hal ini juga terlihat dari depresiasi nilai tukar rupiah yang sebenarnya lebih baik dibandingkan sejumlah negara lainnya. 

Ia menyebut, sepanjang semester I 2018 depresiasi nilai tukar rupiah hanya 6,36 persen jika dihitung secara tahun kalender. Depresiasi tersebut masih lebih baik jika dibandingkan dengan rupee India dan peso Filipina.



Pada periode yang sama, rupee dan peso terdepresiasi sampai 7,25 persen dan 6,72 persen.

"Sehingga dari sisi fundamentalnya mestinya ada ruang untuk lebih apresiatif lagi," kata Perry di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Rabu (11/7).

Perry mengatakan potensi penguatan rupiah juga akan didukung inflasisebesar 3,12 persen secara tahunan atau masih di rentang BI 3,5 plus minus 1 persen. Selain itu, ada pula dukungan dari pertumbuhan ekonomi kuartal I yang mencapai 5,06 persen.

Perry berharap membaiknya nilai tukar rupiah bisa benar- benar tercapai. Untuk itu, BI akan tetap fokus melakukan stabilisasi rupiah dengan tiga kebijakan utama yakni pre-emptive, front loading, dan ahead the curve. 


Selain itu, BI mengaku sudah pasang kuda-kuda dalam mengantisipasi kenaikan suku bunga bank sentral Eropa dan kemungkinan kenaikan suku bunga acuan bank sentral AS Fed Rate sebanyak empat kali.

"Ke depan, kebijakan seperti apa yang akan dilakukan tentu akan dipantau kondisinya baik domestik maupun internasional dan khususnya memperhitungkan dalam rumusan bauran kebijakan ke depan yang intinya tetap pro stabilitas," katanya.

Nilai tukar rupiah terkapar beberapa waktu belakangan ini. Pelemahan salah satunya dipicu oleh kenaikan suku bunga acuan bank sentral AS Fed Rate.

BI sebenarnya sudah berupaya membendung pelemahan rupiah dengan menaikkan suku bunga acuan mereka sampai 100 basis poin.

Tapi upaya tersebut belum membuahkan hasil maksimal. Sampai dengan Rabu (11/7) ini rupiah masih terjungkal di level Rp14.300 per dolar AS.

(agt/bir)