Kepala Departemen Statistik BI Yati Kurniati mengatakan dari survey tersebut BI menemukan bahwa pelemahan rupiah telah meningkatkan modal produksi yang harus dikeluarkan pengusaha, terutama yang bahan bakunya impor seperti; industri kimia, tekstil serta makanan dan minuman.
Padahal di sisi lain kenaikan modal tersebut tidak diimbangi oleh pendapatan. Pasalnya walaupun mengeluarkan dolar AS untuk belanja barang modal, pendapatan yang mereka terima justru berbentuk rupiah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:BI Optimis Rupiah Bakal Kembali Menguat |
"Di tengah tekanan rupiah mereka juga belum menaikan harga (produk), sehingga marginnya terpangkas," ucap Yati di Kompleks BI, Kamis (12/7).
"Ada level rupiah tertentu yang mempengaruhi keputusan perusahaan tidak menaikan harga, untuk tidak berinvestasi, dan lainnya," tuturnya.
Sayang, Bi tidak mengungkap berapa level rupiah mempengaruhi keputusan perusahaan tersebut.
Hasil survei BI juga tidak mengungkap lebih jauh seberapa besar efek pelemahan nilai tukar rupiah terhadap penurunan pendapatan dunia usaha pada kuartal II 2018.
Namun, Yati yakin penurunan pendapatan dunia usaha tak tinggi. Keyakinan didasarkan pada pertumbuhan penjualan eceran yang Mei dan Juni kemarin tinggi karena tertopang oleh Ramadhan dan Lebaran.
Lihat juga:THR Dorong Penjualan Ritel Tumbuh 18 Persen |
(agt)