Analis Artha Sekuritas Dennies Christoper Jordan mengatakan belum ada data ekonomi dalam negeri yang dapat membangkitkan laju IHSG setelah tertekan sepanjang pekan lalu.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), pada pekan lalu IHSG terkoreksi 1,2 persen ke level 5.872 dari pekan sebelumnya di level 5.944.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump baru saja menyatakan akan mengenakan tarif impor atas barang-barang China sebesar US$500 miliar," papar Dennies dalam risetnya.
Sikap Trump disinyalir akan membuat isu perang dagang kembali memanas dan menimbulkan ketidakpastian bagi pelaku pasar.
Analis Indosurya Bersinar Sekuritas William Surya Wijaya mengatakan pelaku pasar tetap bisa melakukan akumulasi pembelian saham di tengah tren pelemehan indeks ini.
"Mengingat IHSG masih berada dalam pola uptrend jangka panjang, hari ini IHSG berpotensi menguat," kata William melalui risetnya.
William meramalkan pada awal pekan ini IHSG berada dalam rentang support 5.721 dan resistance 5.988.
Kendati begitu, William tak menampik jika IHSG memang masih betah berada dalan rentang konsolidasi wajar di tengah pelemahan nilai tukar terhadap dolar AS dan gejolak harga komoditas.
Dari sisi global, pergerakan bursa saham Wall Street terpantau melemah pada akhir pekan lalu, Jumat (20/7). Bila dirinci, Dow Jones turun 0,03 persen, S&P500 turun 0,09 persen, dan Nasdaq Composite turun 0,07 persen. (lav)