Dilansir dari Reuters, Kamis (26/7), harga minyak mentah berjangka Brent naik US$0,49 atau 0,67 persen menjadi US$73,93 per barel.
Penguatan juga terjadi pada harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intemerdiate (WT) sebesar US$0,78 atau 1,14 persen menjadi US$69,3 per barel.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemudian, persediaan minyak mentah di hub pengiriman Cushing, Oklahoma, merosot 1,1 juta barel, terendah sejak November 2014.
"Permintaan produk yang lebih kuat memberikan laporan yang suportif, mendorong penggunaan stok bensin yang wajar," ujar Direktur Riset Komoditas ClipperData Matt Smith.
Kendati demikian, kenaikan harga dibatasi oleh data yang menyatakan sebagian besar penggunaan pasokan terjadi di kawasan West Cost yang dikenal dengan PADD 5. Penurunan persediaan minyak pada kawasan tersebut merupakan yang terbanyak sejak Desember 2011.
Menurut Analis Again Capital Management John Killduf, pasar biasanya memberikan diskon terhadap penggunaan stok yang besar jika terkonsentrasi di West Cost karena terbatasnya konektitas dari West Cost ke wilayah lain.
Hal itu membuat kondisi penurunan stok di West Cost bukan sesuatu yang kritis untuk kondisi persediaan stok secara keseluruhan.
Broker OANDA Stephen Innes mengungkapkan harga minyak dunia juga ditopang oleh laporan Dana Moneter Internasional (IMF) tentang meroketnya inflasi di Venezuela yang mengindikasikan terbatasnya kemampuan Venezuela untuk mendongkrak produksi minyak.
"Produksi minyak Venezuela telah merosot ke level terendah baru sejak 30 tahun lalu menjadi 1,5 juta barel per hari pada Juni," ujar Innes.
Harga minyak telah mendapatkan tekanan bulan ini seiring eskalasi sengketa dagang antara AS dan China, dan juga negara besar lainnya. Sengketa dagang tersebut kemungkinan bakal menahan laju pertumbuhan ekonomi dan melemahkan permintaan energi.
Laporan terkait rencana China mengerek belanja infrastruktur telah mengurangi kekhawatiran bahwa tensi dagang AS-China bakal mengurangi permintaan China terhadap minyak. (lav)