Padahal Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Oke Nurwan mengatakan bahwa saat ini struktur permintaan pasar dunia, 81 persennya didominasi oleh ekspor produk manufaktur.
"Hanya 19 persen yang produk primer," katanya seperti dikutip dari Antara, Selasa (7/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di sisi lain, ekspor produk sumber daya alam juga rentan. Perbaikan kinerja ekspor mudah terpengaruh oleh pergerakan harga komoditas.
Oke mengatakan untuk menggenjot ekspor produk manufaktur juga bukan perkara mudah.
Pemerintah saat ini dihadapkan pada dilema bahan baku. Saat ini, sebagian besar bahan baku masih didapat dari impor
"Begitu proruksi produk manufaktur didorong, otomatis impor meningkat, ini dilema," katanya.
Kinerja perdagangan sepanjang awal tahun 2018 ini tercatat memble. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) sepanjang Januari- Juni 2018 neraca dagang defisit US$1,02 miliar.
Defisit tersebut terjadi akibat nilai impor Januari- Juni mencapai US$89,04 miliar, lebih besar dibanding ekspor yang hanya US$88,02 miliar.
Nah, saat ini pemerintah sedang pusing tujuh keliling dalam mengatasi defisit tersebut. Segala jurus saat ini tengah mereka jalankan agar defisit tersebut bisa diatasi.
Salah satunya mengontrol impor. Presiden Joko Widodo beberapa waktu lalu memerintahkan menterinya untuk menghentikan impor barang tak penting.
Selain itu, ia juga memerintahkan menterinya untuk segera melaksanakan kebijakan pencampuran 20 persen biodiesel ke BBM.
(antara)