Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar mengungkapkan rendahnya harga energi global dalam tiga tahun terakhir menjadi tantangan bagi sektor ESDM. Padahal, pemerintah menginginkan investasi di sektor ESDM meningkat setiap tahunnya.
"Perlu kami awasi dan evaluasi terus menerus agar target (investasi) tersebut dapat tercapai," ujar Arcandra saat berbincang dengan awak media, Jumat (10/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selanjutnya, realisasi untuk sektor pertambangan baru mencapai US$790 juta. Sebesar US$750 juta sisanya berasal dari realisasi investasi di sektor energi baru, terbarukan, dan konservasi energi (EBTKE).
Selain itu, pemerintah juga melakukan pendampingan atau fasilitasi investasi. Lebih lanjut, pengambilan keputusan strategis juga akan dipercepat.
Secara terpisah, Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM Agung Pribadi menambahkan realiasi investasi hingga tengah tahun belum bisa menjadi representasi dari capaian akhir tahun. Misalnya, di sektor hulu dan hilir migas, realisasi investasi biasanya akan terjadi percepatan di paruh kedua setiap tahunnya.
"Mudah-mudahan di akhir tahun bisa tercapai targetnya, kami berusaha untuk mencapainya," ujar Agung.
Sebagai informasi, realisasi investasi di sektor ESDM terus menurun dari tahun ke tahun. Pada 2014, realisasi investasi sektor ESDM mencapai US$33,5 miliar. Selang setahun, turun menjadi US$32,3 miliar. Pada 2016, investasi sektor investasi merosot jadi US$29,7 miliar.
Pada 2017, realisasi investasi di sektor ESDM semakin melandai jadi US$27,5 miliar. Rinciannya, sektor migas mengambil porsi US$11 miliar, sektor ketenagalistrikan US$9,1 miliar, sektor pertambangan US$6,1 miliar, dan sektor EBTKE US$1,3 miliar (agi)