Defisit, menurut dia, bisa ditekan lantaran pertumbuhan pendapatan lebih tinggi dari belanjanya. Di tahun depan, pendapatan diproyeksi Rp2.142,5 triliun atau naik 12,5 persen dari pagu APBN 2018. Sementara itu, belanjanya akan sebesar Rp2.439,7 triliun atau naik 10,03 persen dari pagu tahun ini Rp2.217,3 triliun.
Ini berarti ada potensi pemerintah akan mengambil utang lebih sedikit di tahun depan. Kondisi ini, lanjut Jokowi, membuktikan bahwa APBN semakin sehat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Defisit yang menyempit tentu beriringan dengan defisit keseimbangan primer yang membaik. Tahun depan, defisit keseimbangan primer akan mencapai Rp21,7 triliun atau turun dari tahun ini yakni Rp64,8 triliun.
"Dengan arah kebijakan fiskal itu, diharapkan kita akan dapat mencapai kondisi keseimbangan primer yang seimbang atau surplus dalam waktu dekat," imbuh dia.
Selain pengurangan penarikan utang, ia juga berjanji bahwa utang yang ditarik tahun depan akan dilakukan untuk kegiatan produktif seperti program pembangunan bidang pendidikan, kesehatan, infrastruktur, perlindungan sosial, serta pembangunan daerah.
"Arah kebijakan APBN yang terkendali membuktikan bahwa Pemerintah selalu mengelola fiskal dengan hatihati dan bertanggung jawab, serta mengarahkan untuk memperbaiki kesejahteraan rakyat yang berkeadilan dan merata.erta pembangunan daerah," pungkas dia.
Berdasarkan data Kementerian Keuangan, total utang pemerintah hingga Juli 2018 mencapai Rp4.253 triliun, naik 12,51 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. (agi/bir)