Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo mengatakan hal ini dipicu oleh pelemahan nilai tukar lira, mata uang Turki yang mencapai sekitar 80 persen dan berhasil memicu penguatan dolar Amerika Serikat (AS).
Adapun lira Turki melemah karena terjadi kerentanan terhadap ekonomi domestik, persepsi negatif terhadap kebijakan otoritas, dan meningkatnya ketegangan hubungan antara Turki dengan AS.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rupee India terdepresiasi sekitar 9,84 persen sepanjang 1 Januari-16 Agustus 2018. Lalu, depresiasi real Brazil sekitar 17,37 persen dan peso Argentina mencapai 59,87 persen pada periode yang sama.
Kendati begitu, Dody belum bisa memberi gambaran lebih jauh terkait seberapa besar risiko dan dampak pelemahan mata uang negara-negara tersebut ke Indonesia, khususnya rupiah. Namun, ia memastikan bahwa BI akan terus memantau mata uang negara-negara itu.
Selain itu, bank sentral nasional juga terus mewaspadai sentimen eksternal utama terhadap rupiah. Mulai dari rencana kenaikan tingkat suku bunga bank sentral AS, The Federal Reserve hingga kelanjutan perang dagang AS-China.
"Yang mungkin masih berat itu adalah dampak dari perang dagang yang sekarang sedang terjadi. Itu yang terus kami amati sampai saat ini," ungkapnya.
Kepala Ekonom Bank Mandiri Anton Gunawan menilai kondisi ekonomi dan pelemahan mata uang beberapa negara , seperti Turki dan Argentina, harus diperhatikan oleh Indonesia. Namun, menurut dia, kemungkinan dampaknya tidak besar dan langsung kepada pergerakan nilai tukar rupiah.
"Sebenarnya beberapa negara sudah rentan, tinggal tunggu waktu saja. Tapi mungkin Turki ini dianggap lebih dekat sehingga mempengaruhi psikologis pasar uang dan saham, lalu memberi pengaruh ke mata uang," pungkasnya. (agi)