Berdasarkan risalah kebijakan dikeluarkan The Fed pada Rabu (22/8) waktu setempat, bank sentral bakal tetap memperhatikan dampak perselisihan perdagangan global yang dapat menghantam dunia usaha maupun konsumsi rumah tangga.
The Fed telah menaikkan suku bunga secara bertahap sejak tahun 2015. Tahun ini, mereka telah menaikan bunga sebanyak dua kali.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pembuat kebijakan ini kini khawatir ekonomi AS yang tumbuh kuat belakangan ini memicu inflasi melampau target sebesar 2 persen.
Para pembuat kebijakan umumnya mencatat bahwa pengeluaran oleh rumah tangga dan bisnis AS tumbuh kuat.
Pejabat Fed juga umumnya memperkirakan ekonomi akan tumbuh cukup cepat dan memberikan tekanan pada inflasi. Baru-baru ini, tingkat inflasi AS mendekati target bank sentral.
Dengan kenaikan suku bunga, banyak pembuat kebijakan mengatakan the Fed akan segera berhenti menggambarkan kebijakan moneter sebagai dorongan untuk ekonomi.
Pada saat yang sama, para pembuat kebijakan mengadakan diskusi yang luas tentang risiko terhadap ekonomi dari memanasnya ketegangan perdagangan. Administrasi Trump telah menaikkan tarif impor dari berbagai negara, termasuk China dan anggota Uni Eropa, memicu tarif pembalasan atas ekspor AS.
Diskusi tersebut menggarisbawahi situasi sulit yang dapat dihadapi The Fed jika perselisihan perdagangan memburuk, dengan bisnis AS yang berpotensi perlu mengurangi lowongan kerja dan konsumen yang bakal menghadapi kenaikan harga.
Para pembuat kebijakan menunjukkan bahwa perselisihan perdagangan yang panjang dapat memukul sentimen bisnis, pengeluaran investasi, dan serapan tenaga kerja. Kenaikan tarif yang luas, bagaimanapun, akan mengurangi daya beli rumah tangga AS.
Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada Reuters pada hari Senin bahwa dia tidak senang dengan rencana The Fed menaikkan suku bunga. Menurut Trump, bank sentral harus berbuat lebih banyak untuk meningkatkan perekonomian. (reuters)