Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan hal ini akan dikejar dengan menyusun daftar komoditas ekspor prioritas yang berasal dari rekomendasi empat Kementerian/Lembaga (K/L) teknis. Empat kementerian tersebut, yakni Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), dan Kementerian Pariwisata.
"Mereka akan membuat rincian dari rencana itu. Mereka minta diberi waktu dua hari, baru setelah itu kami punya daftar (komoditas ekspor prioritas) dalam beberapa hari ke depan," ucap Darmin di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Selasa (4/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan pembahasan dalam Rapat Kabinet di Istana Kepresidenan pagi tadi, Darmin bilang, pemerintah melihat setidaknya komoditas ekspor Sumber Daya Alam (SDA) akan tetap menjadi andalan guna menghasilkan devisa kilat. Ia mencontohkan, komoditas di sektor pertambangan dan perkebunan.
"Tapi yang menyangkut industri manufaktur juga ada. Pokoknya mana yang bisa didorong untuk jangka pendek," imbuhnya.
Apalagi sejak Presiden AS Donald Trump mengibarkan bendera perang dagang ke beberapa negara mitranya lantaran membuat Negeri Paman Sam defisit perdagangan.
"Tentu harus dipertimbangkan dan diperhatikan, tergantung di mana pasarnya. Kalau pasarnya di AS, ya lupakan saja. Situasi dia (AS) kerjanya lagi mengerjai orang lain soalnya, tapi kalau ke negara lain kenapa tidak?" pungkasnya.
Permasalahan defisit transaksi berjalan menjadi fokus pemerintah saat ini lantaran defisitnya telah membengkak hingga 2,6 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada paruh pertama tahun ini. Pelebaran defisit itu memberi andil pada pelemahan nilai tukar rupiah yang kini hampir menyentuh Rp14.900 per dolar AS. (agi)