"Jadi bukan soal Rp1 triliun, tapi kita mampu bayar tidak? Sekarang ini ya kita mampu membayarnya," ujarnya di Kantor Wakil Presiden, Jakarta, Selasa (4/9).
Berdasarkan data Kementerian Keuangan, total utang pemerintah pada Juli 2018 mencapai Rp4.253 triliun atau naik Rp26 triliun dibandingkan bulan sebelumnya. Sedangkan dibandingkan posisi akhir tahun lalu, total utang itu naik Rp314 triliun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
JK mengatakan, saat ini tak ada negara yang tak berutang. Bahkan, negara adidaya seperti Amerika Serikat juga berutang. Hanya saja, menurutnya, cara berutang tiap negara berbeda-beda.
"Amerika juga minjam, tapi caranya dengan cetak duit. Kalau Jepang minjamnya ambil dari dana pensiun. Karena kita tidak cetak duit terlalu banyak, maka kita pinjam dari World Bank, dari perbankan, itu biasa saja," terang dia.
Meski cukup besar, rasio utang itu disebut masih terjaga di kisaran 29,47 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Jumlah ini masih jauh di bawah batas yang tertera dalam UU Keuangan Negara, yakni sebesar 60 persen.
Saat ini, komposisi utang masih didominasi Surat Berharga Negara (SBN) yang mencapai Rp3.467 triliun atau mengambil porsi 81,35 persen. Sementara, utang dari pinjaman mencapai Rp785,49 triliun. (bir)