Di kawasan Asia, rupiah menguat bersama renmimbi China 0,21 persen, peso Filipina 0,13 persen, baht Thailand 0,1 persen, dan dolar Singapura 0,07 persen. Namun, yen Jepang masih melemah 0,19 persen, ringgit Malaysia minus 0,16 persen, dan won Korea Selatan minus 0,14 persen.
Berbeda, pergerakan mata uang utama negara maju justru sudah kembali menguat dari dolar AS. Dolar Australia menguat 0,51 persen, euro Eropa 0,15 persen, dolar Kaanda 0,14 persen, franc Swiss 0,1 persen, poundsterling Inggris 0,1 persen dan rubel Rusia 0,07 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:IHSG Semakin Terancam Pelemahan Rupiah |
Ibrahim mengatakan bila rupiah terlanjur menyentuh level Rp15.000, maka upaya stabilisasi rupiah akan lebih sulit. Untuk itu, pemerintah dan Bank Indonesia (BI) perlu lebih keras mengupayakan agar rupiah dapat segera menguat.
Untuk BI, Ibrahim mengatakan perlu kembali menggelontorkan cadangan devisa (cadev) dalam jumlah yang lebih besar. Bersamaan dengan itu, bank sentral nasional tersebut juga perlu kembali mengerek bunga acuan.
Sementara itu untuk pemerintah, Ibrahim mengatakan perlu membentuk tim khusus penanganan rupiah. "Termasuk menangkal dampak Turki dan Argentina agar rupiah tetap kuat," katanya.
(agt)