Jumlah devisa yang beralih ke rupiah itu hanya sekitar 12,68 persen dari total devisa yang dihasilkan para eksportir pada periode yang sama, yaitu mencapai US$34,7 miliar. Angka itu juga hanya 13,7 persen dari total devisa yang masuk ke bank di dalam negeri sebesar US$32,1 miliar.
Padahal, menurut Gubernur BI Perry Warjiyo, rata-rata konversi devisa ke rupiah setiap tahun sebesar 15 persen dari total devisa yang masuk ke perbankan. Artinya, memang ada penurunan pengembalian devisa yang dikonversi ke Mata Uang Garuda pada tiga bulan terakhir.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sedangkan devisa hasil ekspor yang tidak masuk ke bank nasional, namun masuk ke bank asing sebesar US$2,6 miliar atau sekitar 7,6 persen dari total devisa yang dihasilkan.
"Makanya pemikiran kami bagaimana cara membuat mekanisme agar devisa hasil ekspor yang masuk ke perbankan dalam negeri bisa dikonversikan ke rupiah. Kami cari mekanisme solusi terbaik berdasarkan pasar," ucap Perry di Gedung DPR/MPR, Rabu (5/9).
Namun, karena masih sedikit devisa yang dikonversikan, BI akan memikirkan upaya lain, misalnya mempertimbangkan pembentukan special deposit account sebagai penyimpanan devisa tersebut.
"Kami juga lihat apakah perlu insentif fiskal atau perbankan, itu skenario yang bisa dikembangkan. Ada pula bagian yang kami koordinasikan dengan pemerintah," pungkasnya.