Sejalan dengan rupiah, beberapa mata uang di kawasan Asia juga menguat dari dolar AS. Won Korea Selatan menguat 0,17 persen, baht Thailand 0,17 persen, peso Filipina 0,05 persen, dan dolar Singapura 0,01 persen. Hanya yen Jepang yang melemah 0,09 persen dari dolar AS.
Sedangkan mata uang utama negara maju cenderung bervariasi. Poundsterling Inggris dan euro Eropa menguat, masing-masing 0.04 persen dan 0,01 persen. Namun, dolar Kanada, franc Swiss, dan rubel Rusia melemah, masing-masing minus 0,02 persen, 0,06 persen, dan 0,12 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Penurunan dolar AS ini merespon rencana pemerintah AS yang akan melakukan renegosiasi dagang dengan China," ucap Reza, Jumat (14/9).
Selain itu, pergerakan dolar AS akan mendapat tekanan dari data inflasi AS yang tidak sesuai ekspektasi pasar. Inflasi AS berada di angka 0,2 persen secara bulanan (month-to-month/mtm) pada Agustus 2018, sedangkan ekspektasi pasar berharap mencapai 0,3 persen.
Sementara inflasi secara tahunan (year on year/yoy) berada di kisaran 2,7 persen pada Agustus 2018 atau melambat dari Juli 2018 yang mencapai 2,9 persen.
Inflasi AS didorong oleh peningkatan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dan tarif sewa hunian. Meski, terjadi penurunan harga untuk biaya kesehatan dan pakaian jadi.
Sentimen lain yang turut mempengaruhi laju rupiah, menurut dia, adalah pernyataan dari lembaga pemeringkat internasional, Moody's, yang menyebut bahwa kondisi ekonomi Indonesia saat ini masih bisa menahan tekanan rupiah.
Namun, bila pelemahan rupiah terus berlangsung bukan tidak mungkin akan memberikan risiko yang lebih luas. Sebab, pemerintah dan korporasi banyak mengandalkan pendanaan dari luar negeri.
"Tapi pernyataan ini direspons cukup variatif oleh pelaku pasar," pungkasnya. (agi)