Sejalan dengan rupiah, mayoritas mata uang di kawasan Asia turut melemah. Won Korea Selatan melemah 0,7 persen, peso Filipina minus 0,37 persen, renminbi China minus 0,07 persen, dolar Singapura minus 0,02 persen, baht Thailand minus 0,02 persen, dan dolar Hong Kong minus 0,01 persen.
Hanya yen Jepang dan ringgit Malaysia yang menguat di hadapan dolar AS, masing-masing 0,02 persen dan 0,15 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebaliknya, mata uang utama negara maju justru mayoritas menguat dari dolar AS. Poundsterling Inggris menguat 0,07 persen, rubel Rusia 0,07 persen, euro Eropa 0,09 persen, dan franc Swiss 0,13 persen.
Sementara dolar Australia stagnan, sedangkan dolar Kanada melemah 0,03 persen dari dolar AS.
"Rilis kenaikan penjualan ritel AS dapat berpotensi memberikan sentimen positif pada dolar AS, yang dibarengi dengan kenaikan imbal hasil obligasi AS," ucap Reza, Senin (17/9).
Penjualan ritel AS naik 0,1 persen secara bulanan pada Juli 2018. Meski masih tumbuh, sejatinya pertumbuhan itu melambat dibandingkan bulan-bulan sebelumnya.
Penjualan ritel hanya tumbuh minim karena ada kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dan peningkatan penjualan kendaraan bermotor serta pakaian.
Lihat juga:Banderol Glory 580 Aman dari Imbas Dolar AS |