Di kawasan Asia, mayoritas mata uang melemah dari dolar AS. Renminbi China melemah 0,31 persen, ringgit Malaysia minus 0,17 persen, dolar Singapura minus 0,13 persen, baht Thailand minus 0,13 persen, won Korea Selatan minus 0,11 persen.
Sementara peso Filipina stagnan. Sedangkan dolar Hong Kong dan yen Jepang menguat, masing-masing 0,01 persen dan 0,03 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebaliknya, seluruh mata uang utama negara maju kompak bersandar di zona merah. Rubel Rusia melemah 0,18 persen, dolar Australia minus 0,15 persen, poundsterling Inggris minus 0,11 persen, dolar Kanada minus 0,08 persen, euro Eropa minus 0,05 persen, dan franc Swiss minus 0,01 persen.
Analis Monex Investindo Dini Nurhadi Yasyi mengatakan pelemahan rupiah pagi ini merupakan imbas dari pengumuman tarif bea masuk impor baru dari AS untuk produk-produk asal China.
Lihat juga:BI Janji Jaga Daya Tarik Aset Rupiah |
Presiden AS Donald Trump baru saja memastikan Negeri Paman Sam akan mengenakan tarif bea masuk impor sebesar 10 persen kepada produk asal China senilai US$200 miliar mulai 24 September mendatang.
Selanjutnya, Trump akan meningkatkan tarif impor tersebut mencapai 25 persen pada akhir tahun ini. Walhasil, perang dagang antar kedua negara dipastikan akan terus berlanjut, meski sebelumnya sempat beredar kabar kedua negara akan bernegosiasi.
Ia memastikan hal tersebut akan menjadi sentimen positif bagi pergerakan mata uang semua negara di dunia, termasuk rupiah. "Potensi pelemahan riupiah lebih lanjut ada, rupiah diperkirakan bergerak di antara Rp14.820-14.940 per dolar AS," pungkasnya.