Nilai tukar, misalnya. Kejatuhan mata uang Rupiah terhadap dolar AS tak sebesar Turki dan Argentina. Diketahui, rupiah turun sekitar 10 persen. Sedangkan kedua negara lain yang disebutkan mencapai 30 persen.
"Ini menjadi peluang untuk men-diferensiasi (membedakan) dengan negara lain yang tidak se-reformis dan berkembang seperti Indonesia," ujarnya, Selasa (18/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut dia, nyaris seluruh lembaga riset internasional mengungkap ekonomi Indonesia cukup stabil karena pemerintah dinilai mampu mengelola anggaran secara konservatif.
Faktor-faktor tersebut di atas, Lembong menuturkan menjadi peluang Indonesia untuk memanfaatkan situasi perang dagang AS dan China. Misalnya, dengan menarik lebih banyak investor.
"Oktober dan November ini intensif sekali dengan agenda internasional. Setelah IMF, bulan berikutnya, siklus Asian Summits. Jadi, ini hanya bicara strategi dan taktik komunikasi untuk mencoba mengangkat pasar terhadap rupiah," terang dia.
Khusus IMF, pemerintah fokus mengembangkan sektor pariwisata. Harap maklum, sektor pariwisata disebut masih menjadi tiga penyumbang devisa terbesar untuk neraca RI. (aud/bir)