Kepala Pusat Kebijakan Ekonomi Makro Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan (BKF Kemenkeu) Adriyanto mengatakan kebijakan tersebut dilakukan karena pangan memiliki peran penting dan dibutuhkan masyarakat.
"Kalau untuk pangan, kami tetap berdasarkan kebutuhan dalam negeri. Kalau memang masih perlu impor, ya mau tidak mau impor, tidak bisa dihindari," ujar Adriyanto di Gedung DPR/MPR, Rabu (19/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Padahal menteri pertanian bilang komoditas beras itu kelebihan pasokan. Tapi kenapa masih impor? Mungkin ini penyebab neraca perdagangan Indonesia defisit. Jadi impor beras, garam, gula itu tolonglah dikurangi yang tidak perlu," ucapnya beberapa waktu lalu.
Masalah impor pangan mengemuka setelah Direktur Utama Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog) Budi Waseso menentang kebijakan tersebut. Tentangan ia lakukan terhadap kebijakan impor beras.