Sejalan dengan rupiah, mayoritas mata uang lain di kawasan Asia juga menguat. Dolar Singapura menguat 0,01 persen, yen Jepang 0,02 persen, baht Thailand 0,12 persen, won Korea Selatan 0,13 persen, ringgit Malaysia 0,14 persen, dan peso Filipina 0,17 persen.
Sementara itu, dolar Hong Kong stagnan dan renminbi China melemah 0,08 persen dari dolar AS.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:IHSG Diramalkan Masih Betah di Zona Hijau |
Begitu pula dengan mata uang utama negara maju yang mayoritas menguat dari mata uang Negeri Paman Sam. Dolar Kanada menguat 0,02 persen, franc Swiss 0,02 persen, dan euro Eropa 0,07 persen.
Namun, poundsterling Inggris stagnan. Sedangkan rubel Rusia melemah 0,16 persen dan dolar Australia minus 0,06 persen.
"Rupiah berpeluang menguat kalau sentimen pelemahan dolar AS berlanjut," ucapnya kepada CNNIndonesia.com, Kamis (20/9).
Menurutnya, dolar AS berpotensi melemah karena China telah mengeluarkan balasan tarif bea masuk impor untuk produk-produk yang berasal dari AS dengan nilai mencapai US$60 miliar.
Tarif ini merupakan balasan atas kebijakan Presiden AS Donald Trump yang kembali mengeluarkan tarif bea masuk impor sebesar 10 persen untuk produk asal China senilai US$200 miliar.
"Semenjak eskalasi perang dagang itu, dolar AS bergerak cenderung melemah," pungkasnya. (uli/lav)