Sejalan dengan rupiah, mayoritas mata uang di kawasan Asia berada di zona hijau. Dolar Singapura menguat 0,01 persen, yen Jepang 0,02 persen, won Korea Selatan 0,02 persen, baht Thailand 0,02 persen, ringgit Malaysia 0,14 persen, dan rupee India 0,8 persen.
Sementara, dolar Hong Kong stagnan. Sedangkan renminbi China melemah 0,13 persen dan peso Filipina minus 0,1 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Analis Monex Investindo Dini Nurhadi mengatakan rupiah berhasil menguat hari ini karena sentimen yang bisa mempengaruhi rupiah terbilang 'adem ayem', misalnya perang dagang antara AS-China.
Selain itu, katanya, pasar mempersiapkan diri dalam menanti kepastian kenaikan tingkat suku bunga acuan bank sentral AS, The Federal Reserve pada minggu depan, Kamis (27/9).
Begitu pula dengan sentimen dari dalam negeri, Dini bilang, pergerakan rupiah relatif stabil karena turut menanti sikap bank sentral nasional apakah akan mengikuti kenaikan bunga The Fed atau tidak.
Meski, beberapa ekonom di Tanah Air memperkirakan setidaknya BI akan ikut mengerek bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) sejalan dengan kebijakan The Fed.
"Kenaikan ini hanya untuk mengimbangi saja, agar spread (jarak) terjaga. Dengan demikian, tidak ada tekanan capital flows (aliran modal) sekaligus mengurangi tekanan ke rupiah," kata Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Pieter Abdullah Redjalam. (uli/agi)