Kendati demikian, kondisi impor yang terus membengkak tak bisa dimaklumi begitu saja. Pasalnya, selain mencerminkan ekspansi bisnis, bengkaknya impor mengindikasikan kinerja industri manufaktur yang melempem.
Darmin menjelaskan, saat ini pohon industri di Indonesia dari hulu ke hilir terbilang tidak lengkap, utamanya di sektor industri petrokimia. Konsekuensinya, banyak bahan baku atau barang perantara harus diimpor untuk menopang kegiatan industri hilir.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, kinerja industri nonmigas hanya tumbuh 4,41 persen hingga kuartal II kemarin atau kian melemah dibanding kuartal sebelumnya 5,07 persen.
Ia pun menyebut salah satu upaya untuk menanggulangi impor tinggi adalah dengan mendorong investasi. Makanya, iklim investasi harus menarik agar investor mau datang ke Indonesia.
Salah satu daya tarik utama bagi investor, menurut dia adalah masalah fiskal dan perizinan. Untuk itu, pemerintah memberikan fasilitas dalam bentuk keringanan atau pembebasan Pajak Penghasilan (PPh) hingga perizinan investasi secara terintegrasi melalui sistem daring (Online Single Submission/OSS).
"Tentu kalau investasi datang, itu tentu bisa mengisi pohon industri yang kosong itu. Kalau ekonomi menggeliat lagi, impor tidak semakin meningkat lebih cepat," jelas dia.
Menurut Darmin, Indonesia dapat berkaca pada keberhasilan China yang bisa memenuhi kebutuhan industri hilir dan bahkan bisa menjadi negara berorientasi ekspor. Akibatnya, China juga tidak pernah mengalami defisit transaksi berjalan.
Berdasarkan data Bank Dunia, China mengalami suprlus transaksi berjalan sebesar 1,35 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) di tahun lalu. Adapun, posisi defisit transaksi berjalan China terakhir dialami di tahun 1993 silam dengan besaran 2,61 persen dari PDB.
"Yang paling berhasil dalam hal ini adalah China. Mereka bahkan tidak pernah mengalami defisit transaksi berjalan sejak membangun ekonomi di tahun 1970-an," pungkas Darmin.
Menurut data BPS, Indonesia mengalami pertumbuhan ekonomi sebesar 5,27 persen pada kuartal II kemarin. Angka ini adalah pertumbuhan ekonomi tertinggi semenjak pemerintah Presiden Joko Widodo dimulai.
Hanya saja, kinerja ekspor netto menjadi pemberat pertumbuhan ekonomi di kuartal lalu. Secara netto, kinerja ekspor Indonesia malah melemah 7,47 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. (glh/agi)