Menurut Susi, perang dagang memberikan keuntungan ke sektor perikanan Indonesia. Perang dagang bisa menaikkan daya saing produk Indonesia karena tidak dikenai bea masuk. Dengan berkurangnya produk dari China di AS, Indonesia bisa mengisi kekosongan pasokan untuk produk perikanan maupun produk industri lain.
"Tidak usah pikir perang dagang AS-China. Segera berproduksi. Ekspor yang besar, produksi kita sendiri. Kapan lagi ada kesempatan, dikasih sepatu untuk bisa terbang karena yang lain dikasih beban," ujar Susi di kantornya, Jumat (21/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Banyak juga orang Indonesia ini mau gampang saja. Oh kesempatan, barang sana (China) dimasukan ke sini (Indonesia) nanti diekspor lagi ke sana (AS), pasti akan ketahuan," ujarnya.
"Begitu ketahuan kita kena dampaknya. Pasti (AS) akan marah. Nanti bisa-bisa produk kita malah diembargo," ujar dia.
Susi mengungkapkan gampang membuktikan transhipment produk perikanan. Upaya tersebut bisa dilakukan dengan mencocokkan DNA ikan yang diangkut dengan DNA ikan di perairan Indonesia. Jika tak cocok bisa disinyalir produk yang diekspor bukan berasal dari Indonesia.
"Semua pengusaha eksportir seharusnya segera konsolidasi baik dari manufaktur, perikanan, kerajinan tangan. Ini kesempatan besar untuk bersaing melawan naga-naga besar sepeti China, Thailand, Vietnam. Kalau, tidak dipakai ya sayang. Jangan sampai kita jadi tukang ekspor saja," ujar dia.
Ekspor perikanan Indonesia terus meningkat. Sepanjang paruh pertama tahun ini, Indonesia telah mengekspor 510,05 ribu ton ikan, naik 7,21 persen dari periode yang sama tahun lalu yang sebesar 475,74 ribu ton.
Hasil laut utama yang diekspor mulai dari cumi-sotong-gurita, rumput laut, udang, tuna, rajungan/kepiting.