"Penyelesaiannya lebih cepat beberapa bulan dari yang sudah ditargetkan," ujar Jonan dalam keterangan resmi Kementerian ESDM, dikutip Selasa (25/9).
Jonan mengatakan terkesan dengan pembangunan PLTB Colo. Pembangunan tersebut melibatkan 950 pekerja. Dari total pekerja tersebut, 97 persen di antaranya warga negara Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nantinya, PLTB Tolo akan memiliki 20 Wind Turbine Generator (WTG) dengan tinggi 133 meter dengan panjang baling-baling 63 meter berkapasitas masing-masing sebesar 3,6 MW, yang beroperasi mengalirkan listrik. Hingga saat ini, sudah 10 WTG yang sudah terpasang, dan WTG ke-11 sedang dalam pengerjaan.
Listrik yang dihasilkan PLTB Tolo akan disalurkan ke sistem transmisi PT PLN (Persero) dengan tegangan 150 kiloVolt (kV). Untuk penyaluran tenaga listrik, telah dibangun satu substation baru, yakni Substation Tolo, dan modifikasi pada substation PLN Jeneponto. Selain itu, dua unit transformator telah dipasang dengan kapasitas masing-masing 45 Volt Ampere (VA).
Sementara, estimasi produk listrik adalah 198,6 Giga Watt (GW) pertahun, dengan kecepatan angin 6 meter perdetik (m/s) dan capacity factor 30 persen. PLTB Tolo juga ditargetkan akan mereduksi emisi Gas Rumah Kaca (GRK) sebesar 160.600 ton karbon dioksida (CO2) per tahun.
Sebagai informasi, proyek PLTB Tolo menelan investasi sebesar US$160,7 juta. Peletakan batu pertama proyek ini dilakukan pada pada 2 Juli 2018 lalu. Penandatanganan Power Purchase Agreement (PPA) PLTB Tolo telah dilakukan pada 14 November 2016 silam dengan masa kontrak 30 tahun. Adapun harga jual listrik PLTB Tolo yang disepakati sebesar 11,85 sen dolar AS per kWh.
(sfr/agt)