Di kawasan Asia, rupiah tak melemah sendirian. Mata uang garuda melemah bersama baht Thailand dan dolar Hong Kong. Mata uang tersebut masing-masing melemah 0,06 persen dan 0,04 persen.
(uli/agt)
Tapi, mayoritas mata uang di kawasan Asia justru menguat. Ringgit Malaysia menguat 0,01 persen, yen Jepang 0,04 persen, dolar Singapura 0,04 persen, peso Filipina 0,11 persen, dan won Korea Selatan 0,17 persen.
Sebaliknya, mayoritas mata uang utama negara maju justru melemah dari dolar AS. Poundsterling Inggris melemah 0,07 persen, euro Eropa minus 0,06 persen, franc Swiss minus 0,06 persen, dolar Kanada minus 0,06 persen, dan rubel Rusia minus 0,03 persen. Hanya dolar Australia yang menguat 0,04 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Analis Monex Investindo Dini Nurhadi Yasyi mengatakan pelemahan dipicu sentimen kenaikan tingkat suku bunga acuan bank sentral AS, The Federal Reserve. Ia memperkirakan pelemahan akan berlanjut sampai sore.
"Proyeksinya, rupiah bergerak di rentang Rp14.845-14.945 per dolar AS dengan kecenderungan melemah," ucapnya kepada CNNIndonesia.com, Rabu (26/9).
Dini mengakui, pasar sebenarnya sudah memperhitungkan dampak dari kenaikan bunga acuan The Fed. Meskipun demikian, pengaruh kenaikan suku bunga acuan terhadap rupiah tetap sama seperti kenaikan sebelumnya.
"Pasar sudah merespons lebih dulu kenaikan suku bunga The Fed dan jadi sentimen pelemahan rupiah. Meski nanti ketika The Fed sudah menaikkan suku bunga, ada kondisi di mana rupiah bisa saja overbought dan bakal menguat," pungkasnya.
"Proyeksinya, rupiah bergerak di rentang Rp14.845-14.945 per dolar AS dengan kecenderungan melemah," ucapnya kepada CNNIndonesia.com, Rabu (26/9).
"Pasar sudah merespons lebih dulu kenaikan suku bunga The Fed dan jadi sentimen pelemahan rupiah. Meski nanti ketika The Fed sudah menaikkan suku bunga, ada kondisi di mana rupiah bisa saja overbought dan bakal menguat," pungkasnya.