Di kawasan Asia, rupiah melemah bersama ringgit Malaysia yang minus 0,1 persen, yen Jepang minus 0,08 persen, dolar Hong Kong minus 0,02 persen, dan baht Thailand minus 0,02 persen.
Sedangkan won Korea Selatan menguat 0,04 persen, peso Filipina 0,03 persen, dan dolar Singapura 0,01 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Aksi Window Dressing Bikin IHSG 'Kinclong' |
Sementara mata uang utama negara maju kompak bersandar di zona hijau. Euro Eropa menguat 0,01 persen, rubel Rusia 0,02 persen, dan poundsterling Inggris 0,03 persen.
Kemudian, franc Swiss menguat 0,05 persen, dolar Kanada 0,08 persen, dan dolar Australia 0,08 persen.
Perekonomian AS tumbuh 4,2 persen seperti yang sebelumnya telah diperkirakan pasar dan sejumlah ekonom. Laju pertumbuhan ini menjadi yang tercepat hampir empat tahun terakahir. "Ini menjadi sentimen positif bagi dolar AS," ucap Dini kepada CNNIndonesia.com, Jumat (28/9).
Menurutnya, positifnya data ekonomi AS tentu akan membuat penguatan dolar AS semakin solid, sehingga menangkis sentimen positif dari kenaikan bunga acuan dari Bank Indonesia (BI) kemarin.
BI kembali mengerek bunga acuannya sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,75 persen kemarin, mengikuti bank sentral AS, The Federal Reserve yang juga mengerek bunga sebesar 25 bps menjadi 2-2,25 persen. (uli/bir)