Blended finance merupakan pembiayaan yang bersumber dari dana filantropi yang dihimpun masyarakat untuk memobilisasi modal swasta dalam investasi jangka panjang.
Seluruh proyek akan ditawarkan pada Forum Tri Hita Karana (THK) yang digelar di Bali pada tanggal 9-11 Oktober 2018. Forum itu diselenggarakan secara paralel dengan Pertemuan Tahunan Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia 2018.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tadi di laporan itu ada 31 proyek, akan diumumkan di Bali," kata Luhut di kantornya, Rabu (3/10).
Skema pendanaan blended finance sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) atau tujuan pembangunan berkelanjutan. Luhut berharap blended finance menjadi pendanaan alternatif proyek berkelanjutan di luar pendanaan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
"Jadi, ini bukan hanya satu tahapan tapi berkelanjutan," kata Luhut.
Emma menyebut, proyek Energi Baru Terbarukan (EBT) menjadi proyek unggulan yang ditawarkan kepada investor.
Selain itu, pemerintah juga akan menawarkan proyek transportasi ramah lingkungan, sehingga proyek Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU) seperti proyek kereta ringan (LRT) bisa menjadi underlying proyek pada blended finance.
Proyek urban infrastruktur juga menjadi proyek utama yang akan dilepas kepada investor, seperti proyek pengadaan air (water supply), sanitasi dan pengelolaan sampah (waste management).
"Proyek-proyek itu yang paling domain," terang Emma.
Partner organisasi penyelenggara Forum THK adalah pemerintah, United in Diversity Foundation, Blended Finance Taskforce, UN Sustainable Development Solution Network (SDSN) dan International Chamber of Commerce (ICC).
Dijadwalkan, lebih dari 300 stakeholders yang berasal dari dalam negeri maupun mancanegara yang akan berpartisipasi dalam Forum THK. (ulf/bir)