Sejalan dengan rupiah, beberapa mata uang di kawasan Asia juga melemah dari dolar AS. Won Korea Selatan melemah 0,09 persen, ringgit Malaysia minus 0,06 persen, dan dolar Singapura minus 0,05 persen.
Namun, dolar Hong Kong bergerak stagnan. Sedangkan baht Thailand menguat 0,09 persen, peso Filipina 0,16 persen, dan yen Jepang 0,17 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara mayoritas mata uang utama negara maju, melemah dari mata uang Negeri Paman Sam. Rubel Rusia melemah 0,09 persen, poundsterling Inggris minus 0,04 persen, euro Eropa minus 0,02 persen, dan franc Swiss minus 0,01 persen.
Hanya Dolar Kanada dan dolar Australia yang menguat, masing-masing 0,01 persen dan 0,03 persen.
"Perkiraannya pergerakan rupiah tertinggi bisa menyentuh Rp15.300 per dolar AS," ucapnya kepada CNNIndonesia.com, Selasa (9/10).
Selain masih ada sentimen negatif yang membayangi rupiah sejak sepekan terakhir, ia bilang, sentimen negatif baru yang bisa mempengaruhi laju rupiah ke depan ialah rilis neraca perdagangan China pada pertengahan pekan ini.
"Kalau ekspor turun dan impor meningkat, ini akan membuat indeks dolar AS menguat lagi," pungkasnya.