Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo mengatakan kurs rupiah memang bergerak sangat dinamis dalam beberapa waktu terakhir, namun pergerakan ini sejatinya karena mekanisme pasar.
"Nilai tukar rupiah saat ini relatif. Itu tetap dalam batas fundamental kami," ucap Dody di sela Pertemuan Tahunan Dana Moneter Internasional-Bank Dunia (IMF-World Bank) di Nusa Dua, Bali, dikutip Rabu (10/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski pergerakan rupiah terjadi karena mekanisme pasar, Dody bilang, bank sentral nasional akan tetap berusaha menstabilkan pergerakan nilai tukar rupiah. Tujuannya, agar volatilitas rupiah terjaga.
Analis Monex Investindo Dini Nurhadi Yasyi mengatakan pergerakan rupiah kemarin terjadi karena sentimen dari perubahan proyeksi pertumbuhan ekonomi dari Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF).
IMF mengubah proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk tahun ini dari 5,3 persen pada April 2018 menjadi 5,1 persen pada Oktober 2018.
Koreksi perkiraan pertumbuhan ekonomi dilakukan karena ada dampak dari pengetatan kebijakan moneter, perkembangan harga minyak dunia, dan ketidakpastian hubungan perdagangan.
"Ini bisa menjadi ancaman bagi Indonesia sebagai negara emerging market. Padahal, rupiah membutuhkan katalis positif," pungkasnya.