Presiden dan Chief of Executive Officer The Fed New York John C Williams mengatakan sampai saat ini fundamental ekonomi dalam negeri AS masih cukup baik. Penetapan tarif impor atas sejumlah produk asal China juga belum berdampak pada peningkatan inflasi di AS.
"Kalau dari data terbaru, terlihat tidak ada pengaruh kebijakan tersebut terhadap inflasi dan tenaga kerja," katanya di Nusa Dua, Bali, Rabu (10/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dana Moneter Internasional (IMF) dalam Proyeksi Ekonomi Dunia terbaru mereka memperkirakan perang dagang yang berkecamuk antara AS dengan China bakal berdampak pada pertumbuhan ekonomi global, AS dan China. Untuk AS, mereka memproyeksikan perang dagang akan membuat pertumbuhan ekonomi AS 2019 hanya 2,5 persen, lebih rendah dari proyeksi sebelumnya yang masih bisa mencapai 2,7 persen.
Sementara dari sisi global, perang dagang diperkirakan akan membuat pertumbuhan 2019 hanya berada di kisaran 3,7 persen atau lebih rendah dari proyeksi Juli yang masih bisa mencapai 3,9 persen.
William tak menampik dampak tersebut. Dampak tersebut menurutnya juga akan mempengaruhi niat investor dalam berinvestasi dan jumlah lapangan kerja.
Dari sisi Indonesia, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo juga tak melihat dampak yang signifikan pada ekonomi Indonesia akibat perang dagang AS dengan China. Keyakinan ia dasarkan pada ekspor ke China yang sejauh ini tak terganggu.
"Ekspor manufaktur justru meningkat ke China," ujar Perry.
Namun, satu hal yang menjadi perhatian bank sentral Indonesia, yakni banjirnya impor produk dari China. Sebab, China tentu akan mencari negara yang menetapkan tarif masuk lebih murah dibandingkan AS.