ESDM Sebut Pasokan Energi di Palu Belum 100 Persen Pulih

Tim, CNN Indonesia | Jumat, 12/10/2018 22:55 WIB
ESDM Sebut Pasokan Energi di Palu Belum 100 Persen Pulih Ilustrasi gempa Palu. (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)
Jakarta, CNN Indonesia -- Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar menyebut pasokan energi di kota Palu dan Donggala belum 100 persen pulih selepas dihempas gempa bumi dan tsunami dua pekan silam. Suplai listrik, Bahan Bakar Minyak (BBM), dan Liquefied Petroleum Gas (Elpiji) masih belum kembali seperti sediakala.

Saat ini, kapasitas listrik terpasang yang tersedia baru 102 Megawatt (MW) atau 85 persen dari kapasitas sebelum gempa yakni 125 MW. Meski demikian, suplai listrik sebelumnya telah dipulihkan dengan memperbaiki tujuh gardu induk dan 45 penyulang (feeder) oleh tim gabungan PT PLN (Persero) dan generator.

"PLN sudah memastikan akan memulihkan beban seperti sebelum terjadinya tsunami. Saya kira itu akan dilakukan secepatnya," ujar Arcandra, Jumat (12/10).


Sementara untuk pasokan BBM, ia menyebut sudah ada 30 Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang sudah kembali beroperasi dari 39 SPBU yang terdampak gempa. Rinciannya, 15 SPBU di Kota Palu, tujuh di Donggala, satu di Sigi, dan tujuh di Parimo.


Ia mengakui penurunan suplai BBM sempat terjadi di Palu lantaran dermaga jetty terminal BBM Donggala sempat mengalami kerusakan. Hanya saja, semua stok BBM bagi Palu dan Donggala berada di atas ambang kecukupan normal, yaitu 14 hari.

"Bahkan stok Solar kami catat sampai 30 hari, elpiji kami catat stoknya sampai 22 hari. Ini juga karena Pertamina melakukan operasi pasar elpiji di 31 titik," imbuh dia.

Selain memastikan pasokan energi, Kementerian ESDM juga memetakan area yang aman ditempati oleh masyarakat Palu sehingga mereka bisa terbebas dari dampak bencana susulan. Adapun, empat area tersebut adalah Duyu, Talise, Sidera, dan Balaroa.


Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Rudy Suhendar mengatakan empat daerah ini masih dikaji keamanannya. Kajian itu kemudian akan diserahkan ke Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dan Pemerintah Daerah sebagai bahan pertimbangan untuk membangun kembali hunian yang telah hancur.

"Dari sisi geologi kan di situ baru ditunjukkan oleh BPN, baru kami akan start (kajiannya). Hari ini, teman-teman geologi akan mengidentifikasi dari sisi keamanannya. Jadi belum ditetapkan (secara pasti)," imbuh Rudy.

Sebelumnya gempa bumi berkekuatan 7,7 Skala Richter (SR) mengguncang Donggala pada 28 September 2018 dan berakibat tsunami di Palu. Mneurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sudah tercatat 2.045 korban yang berhasil ditemukan dan diidentifikasi. Sementara itu, korban luka berat dan luka ringan berjumlah 10.679 orang, dengan rincian 2.549 luka berat dan 8.130 luka ringan. (glh/agi)