Hal ini diungkapkannya usai menghadiri Global Infrastructure Forum bersama Bank Pembangunan Asia (Asia Development Bank/ADB) yang merupakan salah satu rangkaian dari pertemuan tahunan IMF-WB 2018 di Nusa Dua, Bali. Menurutnya, bila pembiayaan dilakukan bertahap, pelaksanaan proyek bisa lebih lama sehingga pemerintah perlu mengeluarkan dana tambahan untuk menutup kekurangan anggaran lebih dulu.
Belum lagi, ketika proyek infrastruktur itu selesai, pemerintah masih harus memberikan talangan subsidi atas harga yang dibayar masyarakat seperti pada proyek infrastruktur berbentuk transportasi massal. "Karena kalau bertahap demi tahap itu lama ruginya, lama subsidinya, dan meyakinkan orang untuk pakai transportasi umum juga tidak mudah," ujar JK, Sabtu (13/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional sekaligus Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang P.S Brodjonegoro mengatakan selain melibatkan swasta, pemerintah perlu kreatif dalam mencari sumber pembiayaan baru untuk pembangunan infrastruktur, salah satunya dengan memanfaatkan dana pensiun.
"Saat ini (penggunaan) dana pensiun masih sedikit, karena mereka biasanya belum paham kondisi Indonesia. Untuk itu perlu dibangun kerja samanya dengan rekan yang dipercayai, misalnya melalui multilateral investment bank," pungkasnya.