"Angkanya mirip-mirip kuartal I 2018, sekitar 5,1 persen kurang sedikit," ucap Deputi Gubernur BI Mirza Adityaswara di Kompleks Gedung BI, Selasa (23/10).
Menurut Mirza, pertumbuhan ekonomi pada periode Juli-September 2018 akan lebih rendah ketimbang April-Juni 2018 karena pertumbuhan ekspor mulai melambat. Namun, berpotensi sedikit lebih tinggi dari kuartal I 2018 sebesar 5,06 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Suku Bunga Acuan BI Bertahan di 5,75 Persen |
Hal ini karena harga komoditas ekspor andalan Indonesia menurun di pasar dunia, yaitu minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) dan batu bara.
"Kedua harga komoditas ini agak melemah di pasar dunia, sehingga menekan ekspor," katanya.
"Indonesia adalah importir minyak dan harga minyak sedang naik, sehingga impor minyak meningkat. Di sisi lain, ditambah juga karena sedang mengakselerasi infrastruktur," jelasnya.
Kendati begitu, ia bilang, pertumbuhan ekonomi kuartal III 2018 setidaknya masih mendapat kontribusi besar dari konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
"Permintaan konsumsi rumah tangga dan investasi masih cukup kuat. Begitu juga dengan fiskal pemerintah, Bujet APBN tetap mencukupi. Meski, ekspor lemah dan impor tinggi," terangnya.
Secara keseluruhan, BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan berada di batas bawah asumsi bank sentral nasional sebesar 5,0-5,4 persen.
Sementara itu, asumsi makro pemerintah dalam APBN menargetkan ekonomi Indonesia tumbuh di angka 5,4 persen sepanjang tahun ini. (uli/lav)